Parkersburgh tahun 2003

Parkersburgh tahun 2003
I need you because I love You

Sabtu, 08 Mei 2010

GENDER & SEX

Menghangatnya perbincangan seputar isu gender di sepuluh tahun terakhir ini, ternyata belum diikuti pemahaman yang benar dan tepat tentang konsep gender itu sendiri. Karena kenyataan yang banyak dijumpai di masyarakat masih banyak sekali pemahaman yang rancu tentang konsep gender tersebut. Kesalahpahaman atau kekeliruan ini tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat awam, melainkan terjadi juga di kalangan terpelajar. Kebanyakan dari mereka masih belum memahami dan rancu terhadap istilah sex dengan istilah gender. Ironisnya, ada yang menterjemahkan istilah gender adalah jenis kelamin perempuan. Artinya, begitu disebut gender, yang terbayang adalah sosok manusia berjenis kelamin perempuan. Padahal istilah gender dan sex memiliki latar belakang sendiri, meskipun istilah gender mengacu pada jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Oleh karenanya menjadi sangat penting untuk memahami terlebih dahulu perbedaan istilah sex dan gender.

Oakley, seorang ahli sosiologi Inggris berusaha membedakan sex secara biologis dan realitas konstruksi sosial budaya atas sex laki-laki dan perempuan. Pembedaan sex berdasarkan faktor-faktor biologis hormonal dan patologis telah memunculkan dikotomi laki-laki dan perempuan. Oleh karena itu Oakley lebih menegaskan, bahwa sex adalah kata yang merujuk pada perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan yang tampak pada organ genital, dan perbedaan dalam fungsi prokreatif (dalam Nurhayati 2000, hlm. 22).

Perbedaan sex tersebut dapat kita lihat dengan jelas pada perempuan karena perempuan mempunyai vagina, payudara, ovum, dan rahim. Secara genetik perempuan memproduksi hormon-hormon estrogen dan progesteron organ genital dan fungsi prokreatif-perempuan melahirkan. Sedangkan laki-laki ditandai dengan adanya penis, testis, dan sperma, serta memproduksi hormon-hormon testosteron dan androgen.

Pada masa pubertas, produksi hormon ini secara signifikan terus meningkat dan menentukan karakter seksual sekunder serta kemampuan reproduksi laki-laki dan perempuan. Penelitian terhadap realitas biologis menunjukkan bahwa laki-laki hampir memiliki tubuh yang selalu lebih besar dari perempuan, berat badan yang lebih, dan kekuatan yang lebih pula. Berat badan bayi perempuan yang baru dilahirkan pada umumnya lebih ringan dibandingkan bayi laki-laki, dan demikian juga rata-rata ukuran otak perempuan lebih kecil daripada ukuran otak laki-laki. Adanya perbedaan biologis tersebut sudah bersifat kodrati, atau pemberian Tuhan, dan tak satupun yang dapat mengubahnya. Boleh jadi, dewasa ini akibat kemajuan teknologi, seseorang dimungkinkan mampu mengubah jenis kelaminnya secara fisik, tetapi betapapun perubahan itu terjadi tidak sampai mengubah fungsinya.

1 komentar:

  1. kesetaraan gender sudah menjadi niscaya untuk dimaklumi, tidak didasarkan pada qodrat ke"lelaki"-annya or ke"wanita"-annya....melainkan pada aspek potensialnya....boleh jadi...qalo...?

    BalasHapus