Parkersburgh tahun 2003

Parkersburgh tahun 2003
I need you because I love You

Rabu, 05 Mei 2010

EMOSI

Dari segi etimologi, kata emosi berawal dari akar kata bahasa Latin yaitu ’movere’ yang berarti ’menggerakkan, bergerak.’ Setelah mendapat sentuhan awalan ’e,’ maknanya menjadi ’bergerak menjauh’. Terjadinya emosi pada manusia merupakan rangkaian mekanisme untuk dapat bertahan hidup, sebab di dalam emosi terdapat rangkaian untuk bertindak atau sekedar berekspresi. Seperti penjelasan Planalp (1999: 27), bahwa emosi bukanlah emosi jika tidak ada dorongan untuk bertindak dan berekspresi atau dorongan untuk tidak bertindak dalam hal kesedihan. Terdapat banyak aksi yang dilakukan oleh setiap orang dalam perwujudan emosinya, seperti memukul, mencakar, menjambak, membanting dan menendang pada saat marah. Sebaliknya ada ekspresi senyum bahagia, tertawa gembira, bertepuk tangan dan sebagainya, sebagai salah satu wujud dari luapan perasaan yang sedang bersuka.

Orang-orang yang cerdas emosi adalah orang-orang pandai mengelola perasaan hati pada saat berhadapan dengan tantangan dan masalah yang mungkin saja tidak pernah diduga sebelumnya.

Kekuatan emosi memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap kehidupan manusia. Sehingga jika terjadi kerusakan pada salah satu sistem emosi di dalam otak manusia, akan memiliki dampak yang sangat buruk bagi kehidupan sosial pada masa selanjutnya. Dampak perubahan kepribadian yang sangat dramatis pada diri seseorang yang mengalami gangguan fungsional dari otak emosinya. Sebagaimana yang dialami oleh Phineas Gage, seorang mandor di jawatan kereta api yang berperilaku lembut, hati-hati, santun dan penyayang. Tetapi, setelah ia mengalami kecelakaan dalam suatu ledakan yang mengakibatkan pecahan dinamit menembus dan merusak jaringan otaknya yang berfungsi dan bertanggung jawab terhadap emosi, Gage berubah menjadi seorang yang sangat kasar, berbahasa kasar, suka marah dan beringas. Antonio Damasio (1994), Ketua Jurusan Neurologi di Fakultas Kedokteran Universitas Lowa, dalam bukunya Descartes’Error, ia menjelaskan bahwa serpihan dinamit tersebut telah merusak bagian luar dan tengah aspek terluar korteks frontal pada belahan otak kanan dan kiri, dan kerusakan inilah yang telah mengubah perilaku Gage (dalam Barbara K. Given, 2007, hlm. 81-82). Meskipun secara intelektual, Gage tidak mengalami gangguan serius, tetapi emosionalnya mengalami kekacauan yang luar biasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar